Investasi Reksa Dana di Saham Diprediksi Meningkat

JAKARTA – Fitch Ratings, lembaga pemeringkat internasional, menyebutkan alokasi investasi reksa dana di Indonesia hingga akhir tahun lalu masih didominasi instrumen fixed income, seperti obligasi. Departemen Riset Finance Today menilai, alokasi investasi reksa dana pada instrumen saham berpotensi meningkat seiring pertumbuhan pasar modal.

 Aymeric Poizot, Analis Fitch Ratings, menyebutkan Indonesia memiliki 621 produk reksa dana hingga Desember 2012. Dana kelolaan reksa dana yang ditempatkan pada instrumen fixed income mencapai 43%, sedikit lebih tinggi dibandingkan investasi pada saham sebesar 42%. Alokasi investasi yang lebih cenderung ke instrumen pendapatan tetap tersebut terlihat pada beberapa negara berkembang di Asia Timur, seperti Malaysia yang mencapai 42%, Taiwan 58%, dan Thailand 61%.

Di China dan Hong Kong, alokasi investasi reksa dana pada instrumen saham mendominasi masing-masing sebesar 35% dan 62%. Menurut Fitch, reksa dana yang fokus pada saham sudah berkembang di beberapa negara Asia Timur, tetapi untuk reksa dana yang memiliki beberapa jenis instrumen investasi sekaligus masih kurang diminati dibanding di pasar Eropa. 

 China dan Indonesia merupakan dua negara di Asia Timur di mana regulator tidak memperbolehkan masyarakat berinvestasi pada produk reksa dana yang dijual oleh perusahaan manajer investasi dari luar negeri. Namun, di pasar yang lebih matang seperti Singapura dan Hong Kong, porsi terbesar dana kelolaan reksa dana justru ditempatkan di luar negeri karena memberikan imbal hasil (return) yang lebih tinggi.  

Departemen Riset Finance Today, menilai besarnya alokasi investasi reksa dana pada instrumen fixed income disebabkan pada tahun lalu kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan kurang menjanjikan. Namun, reksa dana saham berpotensi jadi tujuan utama investor pada tahun ini sehingga alokasi investasi pada tahun ini bisa berubah. Penempatan dana pada instrumen saham bisa melampaui alokasi pada instrumen fixed income karena return saham pada tahun ini berpotensi naik signifikan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah menguat 8% (year-to-date), sementara secara tahunan Indeks menguat 19,7% ke level 4.663,03. Salah satu faktor pendorong kenaikan indeks pada tahun ini adalah pulihnya harga komoditas. Selain itu, kenaikan saham Indonesia akan ditopang oleh persepsi investor asing yang semakin membaik terhadap Indonesia. Saat ini persepsi risiko Indonesia oleh investor relatif sama dengan beberapa negara maju di kawasan Eropa.

Tingkat persepsi risiko Indonesia yang digambarkan oleh obligasi pemerintah 10 tahun tercatat sebesar 5,63%. Level ini relatif sama dengan yield obligasi pemerintah Italia dan Spanyol yang sebesar 5,5% dan 5,4%. Sementara itu, pasar saham Indonesia selama setahun terakhir menawarkan yield hampir 20%, lebih tinggi dibanding yield pasar saham Italia dan Spanyol yang diwakili oleh Indeks MSCI Italia dan Spanyol masing-masing -3,79% dan -3,63%.

Jika dibandingkan dengan yield bursa negara-negara tetangga, imbal hasil bursa Indonesia juga lebih tinggi. Imbal hasil selama setahun terakhir di Singapura, Jepang, Hong Kong, dan Malaysia tercatat sebesar masing-masing 9,27%, 18,15%, 5,2%, dan 4,2%. Dengan tingkat risiko yang relatif sama, Indonesia mampu menawarkan imbal hasil jauh di atas yield negara-negara maju bahkan di atas negara-negara tetangga. Hal ini menjadi faktor pendorong masuknya dana asing ke Indonesia.

Selain itu, melimpahnya dana murah karena kebijakan stimulus yang dilakukan negara-negara maju seperti AS, dan Jepang membuat pasar modal negara berkembang menjadi tujuan aliran dana tersebut. Sepanjang awal tahun ini, total dana asing yang masuk ke pasar saham Indonesia mencapai Rp 14,46 triliun, hampir menyamai dana masuk sepanjang tahun lalu Rp 15,88 triliun. 

 Derasnya aliran dana masuk oleh asing akan membuat IHSG bergerak semakin tinggi. Peningkatan kinerja saham akan membuat investor mengalokasikan lebih banyak dananya ke instrumen ini. Hal ini berpotensi membuat kelolaan reksa dana saham meningkat lebih tinggi dibanding reksa dana yang memiliki underlying asset obligasi dan pasar uang.

Berdasarkan data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, dana kelolaan reksa dana saham sepanjang tahun lalu naik cukup tinggi, yakni 14,62% menjadi Rp 69,23 triliun dibandingkan akhir 2011 Rp 60,4 triliun. Padahal, pasar modal Indonesia masih sangat fluktuatif. Sementara itu, dana kelolaan reksa dana pasar uang dan pendapatan tetap naik lebih tinggi, yakni 27,08% menjadi Rp 12,2 triliun dan sebesar 21,37% menjadi Rp 34,47 triliun. Dana kelolaan reksa dana campuran hanya naik 2,8% menjadi Rp 22 triliun.  Gambar

 

Karakteristik Investor
Teddy J Punu, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI), mengatakan saat ini karakteristik investor di Indonesia sudah tidak terlalu konservatif. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan dana kelolaan reksa dana saham di saat kondisi pasar modal Indonesia kurang menjanjikan. 

 “Masyarakat Indonesia juga sudah mulai memahami bahwa investasi bersifat jangka panjang,” kata Teddy. Ia memprediksi dana kelolaan reksa dana saham akan meningkat lebih pesat seiring kenaikan harga underlying asset dan penambahan dana masyarakat. 

Denny R Thaher, Presiden Direktur PT Trimegah Asset Management, perusahaan manajer investasi anak usaha PT Trimegah Securities Tbk (TRIM), mengatakan pada tahun ini prospek reksa dana saham akan lebih bagus jika dibandingkan reksa dana lainnya, seperti pendapatan tetap. “Trimegah menargetkan Indeks Harga Saham Gabungan akan mencapai 4.900 pada tahun ini,” kata dia.

Menurut Denny, reksa dana saham pada tahun ini diestimasi akan membukukan return sekitar 15% hingga 20%. Sementara itu, reksa dana pendapatan tetap diestimasi hanya akan membukukan return 7% hingga 8%. Perusahaan manajer investasi akan mencari beta agar kinerja reksa dana sahamnya dapat melebihi pertumbuhan IHSG.

Perseroan akan memilih saham-saham yang lebih beroerintasi domestik, seperti saham sektor properti, konsumer, dan infrastruktur. Trimegah Asset Management menargetkan pertumbuhan total dana kelolaan sebesar 40% pada tahun ini menjadi Rp 6,3 triliun dari akhir 2012 Rp 4,5 triliun. 

 Hazrina Dewi, Direktur & Head of Equity PT First State Investment Indonesia, membenarkan jika pada tahun lalu banyak masyarakat yang menambah dana investasinya di reksa dana saham saat kondisi pasar modal sangat berfluktuasi. Pada akhir Oktober 2012, perusahaan membukukan kenaikan dana kelolaan sebesar 41,89% menjadi Rp 5,25 triliun. Dana kelolaan tersebut telah melampaui target sepanjang tahun lalu Rp 5 triliun.

Porsi dana kelolaan perusahaan yang terbesar berasal dari reksa dana, yakni 85% sedangkan 15% dari kontrak pengelolaan dana. Kontribusi terbesar dana kelolaan reksa dana didominasi oleh reksa dana saham, yakni 75%. Sementara sisanya, dikontribusikan oleh produk reksa dana pendapatan tetap 9%, campuran dan pasar uang masing-masing 8%. (*)

 BY Abdul Wahid Fauzie, Danny Wijaya & Hari Widowati (http://goo.gl/DvrM8)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s