Sekuel Akhir : Ketika Agen Asuransi Benar-Benar Berhenti Mengejar Anda

Gambar Nanti aja, saya sehat-sehat aja kok

SEKUEL 1

“Suamiku baru saja divonis kanker….”

Tubuh saya sontak lemas.
Siska bercerita kondisi Roni, suaminya.
Sampai akhirnya dari hasil pemeriksaan diagnosa mengarah ke kanker. Memori saya berkelebat cepat ke beberapa bulan belakangan, masih tercetak jelas raut muka kurang senang ketika saya menawarkan asuransi padanya.

Entah karena menurutnya saya terlalu bersemangat, terlihat memaksa, mengganggu, apapun itu saya sudah tak lagi pedulikan pandangan dia pada saya. Saya hanya bisa mengutuki diri saya mengapa saya tidak memaksanya dengan lebih keras!

Waktu itu Siska bilang bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa mereka sehat-sehat saja, dan sudah ada asuransi dari kantor Roni. Singkat cerita, aplikasi asuransi selalu saya bawa pulang kembali dalam keadaan kosong setiap kali saya bertemu Siska. Bahkan sampai saat ini, mereka tidak pernah memiliki asuransi.

Seminggu yang lalu motor dan perhiasan emas termasuk mas kawin sudah dijual untuk menjalani rawat inap, kemoterapi dan transfusi…

Ini baru 3 bulan sejak pertama kali dia divonis sakit, dan rumah yang telah mereka cicil dalam 24 bulan terakhirpun terancam di-over kredit.

Dan, spontan saya pun menceritakan hal ini kepada teman-teman saya yang juga sahabat-sahabat dekat Roni di kampus dulu. Saya pun membuat inisiatif untuk menggalang dana untuk bisa membantu meringankan beban Roni dan Siska.

“Titip salam aja ya buat Roni…”

Itu yang dikatakan Sandy, Tika, Rendi, Selly, dan Husni pada saya. Mereka berlima sahabat karib Roni.

Dada saya berdesah, “Kawan, salam itu takkan bisa membantu sedikitpun buat dia, tapi mudah-mudahan bisa menguatkan semangatnya bahwa masih ada teman-teman yang menitipkan salam.”

Sebagai agen asuransi, fungsi saya sudah mati di depan dia. Saya sudah tak berguna lagi untuknya. Sebagai sahabatpun saya hanya mampu memberikan jumlah yang tidak banyak dari sisi materi. Selain tentunya kekuatan, dan menyediakan diri untuk mendengar keluh kesahnya tentang keluarga suaminya yang bahkan tak memberikan support moral sekalipun.

Satu hal lagi yang saya bisa bagi dari kisah Roni dan Siska, bahwa sebelum kita sibuk berfantasi dengan rancangan investasi, pastikan asuransi menjadi dasar dari rancangan tersebut.

Dan sampai saat itu tiba, kami akan selalu berusaha keras menjalankan misi kemanusiaan kami sebagai agen asuransi.

Gambar

SEKUEL 2

Jakarta, 17 Mei 2012 jam 02:00 WIB

Hanya bulan berselang setelah Roni terdiagnosa kanker. Dia meninggal dunia.

“Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun
Semua berasal dari Tuhan dan kelak akan dikembalikan kepada-Nya

Siska dan anak-anaknya, yang sudah tidak dinafkahi Roni sejak terakhir saya jenguk, sudah pindah ke rumah orang tuanya. Sejak Roni sakit, tak ada lagi biaya untuk mereka melanjutkan hidupnya. Terutama setelah aset-aset utama mereka seperti rumah dan mobil sudah dijual untuk biaya berobat beberapa bulan saja.

Tak lama setelah Roni sakit, Siska langsung mencoba melamar kerja ‎‎dan dia sudah bekerja saat ini. Bekerja bukan menjadi keinginan Siska. Karena Siska tahu bahwa sepeninggal Roni, dia adalah sosok yang paling dibutuhkan anak-anaknya. Dia ingin menemani anak-anaknya bertumbuh.

Saya coba berhenti menyesali ini, memberitahu diri saya apa yang dulu seharusnya saya lakukan. Tapi itu tidak akan mengubah kenyataan apapun bahwa Roni telah meninggal.

Almarhum meninggal di sebuah Rumah Sakit Umum terbesar di Jakarta, di sebuah KURSI di Instalasi Gawat Darurat. Saking penuhnya rumah sakit tersebut. Ada ketakutan dari orang tua mereka kalau dibawa ke rumah sakit sejak awal akan menghabiskan banyak uang. Praktis, sejak terdiagnosa kanker, Roni tidak pernah mendapatkan perawatan yang layak.

Satu-satu kertas yang saya pandangi saat ini adalah formulir aplikasi asuransi kosong yang seharusnya menjadi biaya hidup Siska dan anak-anaknya.

Siska, maafkan saya….
Kertas ini seharusnya menjadi payung untuk kalian. Saya tahu bahwa payung ini takkan menghentikan hujan, tapi payung ini bisa membantu kalian tetap berjalan menembus hujan menuju tempat tujuan.

Asuransi tidak akan mengubah keterjadian segala sesuatunya, tapi asuransi akan membantu meringankan resiko keuangan mungkin terjadi ketika sesuatu harus terjadi.

Maafkan,
Karena kali ini saya harus benar-benar berhenti ‘mengejar’ suamimu…

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s